Fanni07’s Weblog


FSLDK, Bersama Membangun Bangsa

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan arus informasi sekarang ini, batasan geografis, ruang dan waktu seakan bukan menjadi hambatan dalam beraktivitas. Informasi dari suatu daerah terpencil di satu belahan dunia akan segera ter-publish ke belahan dunia lainnya dengan cepat. Bahkan perubahan situasi di suatu Negara dapat mempengaruhi situasi Negara lainnya. Dengan demikian, masing-masing Negara harus memiliki barier yang kuat untuk menghadang segala arus negative yang masuk ke wilayahnya, tak terkecuali juga dengan Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu banyak beredar pemberitaan tentang adanya pemuatan kembali kartun Nabi Muhammad SAW di media cetak Denmark. Selain itu, di suatu media online juga dimuat berita tentang adanya rencana dari anggota parlemen Belanda Geert Wilders dari partai Kebebasan untuk memutar film “Fitna” yang berisi hujatan terhadap agama Islam dan kitab suci Al-Quran. Belum lagi ditambah dengan pemberitaan lainnya yang hal itu secara tidak langsung mempengaruhi stabilitas kondisi dalam negeri Indonesia yang memiliki keragaman agama.
Masuk dan tersebarnya pemberitaan tersebut bukan hanya membahayakan, tetapi juga akan memicu timbulnya permusuhan, perselisihan antaragama dan peluang untuk terjadinya disintegrasi bangsa. Negeri kita Indonesia, yang saat ini masih harus berusaha ekstra untuk menangani moralitas bangsa dan permasalahan kerakyatan dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok, kasus korupsi pejabat Negara yang tak kunjung habisnya, ditambah dengan masih banyaknya kejadian musibah alam yang datang silih berganti, rasanya harus memiliki kekuatan lebih untuk menghadang segala ancaman dari luar yang berkemungkinan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Di manapun, dari dulu hingga sekarang, sudah menjadi catatan sejarah bahwa kehancuran suatu negeri bukanlah karena adanya serangan dari luar, tapi lebih karena permasalahan internal negeri itu sendiri. Dan kemungkinan, hal ini pun yang digunakan sebagai strategi Negara-negara lain di dunia yang tidak menginginkan persatuan di bumi Indonesia lantaran sebagian besar penduduknya adalah muslim. Mereka tidak menginginkan Islam tegak di suatu Negara yang jumlah muslimnya menempati angka terbesar di dunia. Mereka juga takut jika umat Islam di Indonesia berkembang, maka kejayaan peradaban Islam yang diusungnya akan menggantikan rezim peradaban kejahiliyaan yang mereka bangun turun-menurun sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan ada sebuah kutipan menarik yang diungkapkan oleh DR. Yusuf Al Qaradlawy di Masjid Al Azhar Jakarta (1999), beliau mengatakan, “Insya Allah, masa depan yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hilang di tangan kita, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan Saya berharap, Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini”.
Ketika negeri-negeri muslim di Middle East tengah disibukkan dengan penjajahan bangsa Israel, maka rasanya saat ini, kita pun sedang menghadapi penjajahan ideology dan pemikiran yang tak kalah pula dampaknya terhadap bangsa dan negara Indonesia. Bahkan penjajahan ini bagaikan musuh dalam selimut, tak tampak tapi terselubung, di mana sasarannya adalah kaum muda, remaja, pelajar dan mahasiswa yang notabene merupakan tulang punggung dan pilar-pilar penyokong negeri ini.
Jika kaum mudanya dirusak, maka siapa yang akan membangun dan mempertahankan negeri ini? Oleh karena itu, kita butuh kaum muda yang berdaya. FSLDK sebagai wadah silaturrahim antar LDK se-Indonesia yang berada di lingkup kampus harus mampu menjadi moral force untuk memback up segala hal yang berkaitan dengan moralitas. FSLDK bergandengan dengan elemen dan gerakan pemuda lainnya harus mampu menjadi pilar pendukung pembangunan moral bangsa. FSLDK bekerjasama dengan berbagai media nasional dan daerah juga harus mampu mengcounter berkembangnya isu negative dalam negeri yang dapat menimbulkan perpecahan dan disintegrasi bangsa. Mari singsingkan lengan untuk bahu membahu membangun negeri ini bersama, negeri yang dari sinilah kita dilahirkan dan dibesarkan, negeri yang kita cintai karena ragam budaya dan eksotika alamnya, negeri yang jika Allah berkehendak, maka kebangkitan kejayaan Islam akan dimulai darinya.
Haruskah dengan pertumpahan darah dulu kita semua akan bersatu sebagaimana bersatunya Hamas dan Fatah ketika tentara Israel dengan brutalnya mengebom wilayah tempat tinggal keluarga yang mereka cintai? Haruskah kita, pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda kedua untuk membangkitkan rasa nasionalisme itu? Atau tidakkah cukup dengan kesadaran kita, pelajar yang dikaruniai intelektualitas ini, dengan segenap pemikiran dan karya-karya besarnya untuk membangun bangsa dan negeri ini bersama?
Semua pilihan ada pada diri kita masing-masing. Namun, apapun pilihan kita setidaknya berfikirlah untuk sedikit meringankan beban negeri ini dengan sebidang bahu yang kita topangkan untuknya. Sebidang bahu lewat kerja nyata kita untuk bangsa dan negeri tercinta, INDONESIA. (Fanni O, Jarmusnas FSLDK)
Nama : Fanni Okviasanti
Kuliah : Ilmu Keperawatan, FK UNAIR, 2004
Alamat : Kedung Tarukan Wetan No. 31 Sby
CP : 031-60305769; 085648087398; 085230237595

Iklan

Pemberdayaan Potensi Muslimah Menuju Indonesia yang Lebih ‘Berdaya’

Di tengah maraknya berbagai kasus pornografi, pornoaksi, dan tindakan kriminalitas yang seakan – akan sudah membudaya di masyarakat, menjadi hal yang sangat kontradiktif jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah seorang muslim. Indonesia yang notabene merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ternyata belum mampu menunjukkan realitas nilai Islam yang sesungguhnya.

Islam yang seharusnya menjadi solusi terhadap berbagai persoalan keumatan, belum mampu ditampakkan secara jelas oleh penganutnya. Oleh karena itu, berbagai usaha perbaikan moralitas bangsa dengan mengacu pada nilai – nilai Islam di kalangan pelajar dan masyarakat kian gencar diupayakan.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa salah satu elemen pendukung dalam upaya perbaikan itu adalah kaum perempuan. Karena bagaimanapun, selain secara kuantitatif jumlah mereka menempati lebih dari 50 persen penduduk negeri ini, dari rahim merekalah generasi – generasi pembangun peradaban akan dilahirkan. Sehingga upaya konstruktif menuju Indonesia yang lebih baik dan bermoral juga harus melihat aspek dan potensi tersebut.

Kondisi yang saat ini ada menunjukkan bahwa muslimah dan kaum perempuan pada umumnya belum memiliki kesadaran yang tinggi akan potensi dan segala keistimewaan yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya kaum perempuan yang menjadi subjek dan objek dari konsumerisme produk dan kematerian.

Selain itu, kaum perempuan juga dipandang belum memiliki tingkat intelektual dan kemandirian yang tinggi, hanya bisa bergantung pada orang lain, terutama yang berkaitan dengan finansial. Inilah yang kemudian menyebabkan banyaknya kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan, dengan alasan bahwa perempuan dianggap kurang ‘berdaya’.

Memandang hal tersebut, maka dalam rangka menyambut peringatan hari Ibu tanggal 22 Desember nanti, Jaringan Muslimah FSLDK memandang perlu untuk lebih mengoptimalkan potensi dan peran muslimah sebagai salah satu penyokong bangunan dakwah dan pembangun peradaban negeri ini. Salah satu program unggulannya, yaitu PPM (Pengembangan Potensi Muslimah—meliputi pengembangan potensi fisik, intelektual dan spiritual), diharapkan mampu menjadi solusi terhadap masalah keperempuanan tersebut.

Diawali dari para muslimah muda yang berada di lingkungan kampus sebagai sasarannya, program ini ingin mencetak bukan hanya mahasiswi yang solehah, tetapi juga calon isteri yang taat dan ibu bagi generasi (Mar’atus Shalihah, wa Zaujatu Muthi’ah, wa Ummul Madrasah).

Sadar bahwa ibu adalah madrasatu ‘ula (sekolah pertama) bagi anak – anaknya, maka pembinaan muslimah sedini mungkin, bahkan sebelum mereka menuju jenjang pernikahan merupakan suatu kebutuhan. Dari sinilah diharapkan akan lahir generasi penerus yang Rabbani, yang akan membawa negeri ini menjadi lebih baik dan ‘berdaya’. Generasi yang hebat akan lahir dari rahim seorang ibu yang hebat.

“Masifkan Pemberdayaan Potensi Muslimah menuju generasi yang lebih baik dan bermoral”